Hadits ke 1

عن أمير المؤمنين عمر بن الخطاب رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى ، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ .(متفق عليه).
Dari Amirul mukminin Umar bin Al Khoththob radliyallahu ‘anhu ia berkata, Rosulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : ”Sesungguhnya amal itu dengan niat, dan sesungguhnya seseorang mendapatkan apa yang ia niatkan, barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan RosulNya maka hijrahnya kepada Allah dan RosulNya dan barang siapa yang hijrahnya kepada dunia yang ia cari atau wanita yang ingin ia nikahi maka hijrahnya sesuai dengan tujuannya “. (Muttafaq ‘alaih).

Kedudukan hadits niat

Al Hafidz Ibnu Hajar –rahimahullah- berkata :” Telah mutawatir dari para imam mengenai keagungan hadits ini, Abu Abdillah berkata: ” Tidak ada pada hadits hadits Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam yang lebih banyak dan kaya akan faidah dari hadits ini “.

Para imam seperti Abdurrohman bin Mahdi, Asy Syafi’I, Ahmad bin Hanbal, Ali bin Al Madini, Abu Dawud, At Tirmidzi, Ad Daraquthni, dan Hamzah Al Kinani bersepakat bahwa hadits ini adalah sepertiganya islam, sebagian ulama ada yang berpendapat seperempat islam. Ibnu Mahdi juga berkata: ”hadits ini masuk kedalam tiga puluh bab ilmu “. Sedangkan Asy Syafi’I berkata :” ia masuk ke dalam tujuh puluh bab “.

Al Baihaqi menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan sepertiga ilmu, yaitu bahwa perbuatan hamba terjadi dengan hati, lisan dan anggota badannya, sedangkan niat adalah salah satu dari tiga anggota tadi bahkan yang paling kuat, karena niat terkadang menjadi sebuah ibadah tersendiri dan yang lainnya sangat butuh kepadanya, sehingga dikatakan bahwa niat seorang mukmin lebih baik dari amalnya.1

Sanad hadits

Hadits ini disepakati oleh para ulama keshohihannya1, ia adalah hadits fardun mutlak, karena ia hanya mempunyai satu sanad saja2, yaitu bahwa tidak ada yang meriwayatkan dari kalangan shohabat kecuali Umar bin Al Khoththob, dan tidak ada yang meriwayatkan dari Umar kecuali Alqomah bin Waqqoosh Al Laitsi, dan tidak ada yang meriwayatkan dari Alqomah kecuali Muhammad bin Ibrohim At Taimi dan tidak ada yang meriwayatkan darinya kecuali Yahya bin Sa’id Al Anshori, dan dari beliau banyak sekali ulama yang meriwayatkannya.

Faidah dari sanad hadits

Kita dapat mengambil faidah dari sanad hadits ini yaitu bahwa hadits ahad adalah hujjah dalam aqidah, karena niat adalah perbuatan hati yang merupakan tempat aqidah, oleh karena itulah Imam Al Bukhari berkata dalam Shahihnya kitab Al iman bab no. 41 :” Bab bahwa amal dengan niat dan hisbah (ikhlash), dan setiap orang mendapatkan apa yang ia niatkan, maka masuk padanya iman, wudlu, sholat, zakat, haji, puasa dan ahkam (hukum-hukum)… kemudian beliau membawakan hadits niat ini3.

Ini merupakan ijma’ (konsensus) ahlussunnah wal jama’ah, Al Hafidz Ibnu Abdil Barr berkata : ”dan semuanya (maksudnya ahli fiqih dan atsar) beragama dengan kabar seorang yang adil dalam masalah aqidah, memberikan loyalitas dan permusuhan diatasnya, dan menjadikannya sebagai syari’at dan agama dalam aqidahnya, dan diatas (jalan) inilah jama’ah ahlussunnah wal jama’ah “.4

Bukan sebab muhajir Ummi Qois

Sebagian orang mengira bahwa sebab terjadinya hadits ini adalah kisah seorang laki-laki yang ingin menikahi seorang wanita yang disebut Ummu Qois, lalu ia berhijrah dengan tujuan tersebut bukan mengharapkan keutamaan hijrah, mereka beralasan dengan sebuah riwayat dari Abdullah bin Mas’ud radliyallahu ‘anhu ia berkata :” Barang siapa yang berhijrah karena mengharapkan sesuatu maka hijrahnya sesuai dengan tujuannya tersebut “. Ada seorang laki-laki yang berhijrah untuk menikahi seorang wanita yang bernama Ummu Qois, lalu semenjak itu ia diberi gelar muhajir Ummi Qois. Ath Thobroni meriwayatkan dari jalan lain dari Al A’masy dengan lafadz :” Diantara kami ada seorang lelaki yang melamar seorang wanita namanya Ummu Qois, akan tetapi wanita itu enggan untuk menerimanya sampai ia berhijroh, lalu laki-laki itu berhijroh dan menikahinya, maka kami menyebutnya muhajir Ummi Qois “.

Al Hafidz Ibnu hajar mengomentari :” sanadnya shohih sesuai dengan syarat Syaikhain, akan tetapi tidak menunjukkan bahwa hadits niat terjadi karena sebab itu, dan akupun belum pernah melihat pada jalan-jalan riwayat tadi yang menegaskan hal itu “.5

Biografi ringkas Umar bin Al Khaththab radliyallahu ‘anhu-

Beliau bernama Umar bin Al Khaththab bin Nufail bin Abdil ‘uzza bin Riyah bin Qurth bin Rozah bin ‘Adiyy bin Ka’ab bin Luayy Al Qurosyi. Kunyah beliau adalah Abu Hafsh6 dan gelar beliau adalah Al Faruq. Ibu beliau bernama Hantamah bintu Hisyam Al Makhzumiyah saudara wanita Abu Jahal.

Beliau masuk islam pada tahun keenam dari kenabian, umur beliau waktu itu dua puluh tujuh tahun, berkat doa Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits yang dikeluarkan oleh Ibnu Majah dalam sunannya (105) dan dishohihkan oleh Syeikh Al Bani, Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :” Ya Allah, muliakanlah islam dengan Umar bin Al Khaththab “.7

Umar mempunyai keutamaan yang sangat banyak diantaranya adalah hadits yang dikeluarkan oleh Al Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar Rosulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :” Ketika aku tidur aku bermimpi diberi segelas susu, lalu aku meminumnya sehingga aku merasakan kenyang sampai ke jari jemariku, kemudian sisanya aku berikan kepada Umar “. Para shohabat berkata :” Apakah takwilnya ? beliau bersabda :” Ilmu “.

Al Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairoh Nabi Sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :” Ketika aku tidur aku bermimpi melihat manusia ditampakkan kepadaku dalam keadaan mereka memakai pakaian ; ada yang pakaiannya sampai dada, ada pula yang lebih rendah dari itu, maka Umar melewatiku dengan memakai pakaian panjang yang terseret (ujungnya)”. Para shohabat bertanya :” Apakah takwilnya wahai Rosulullah ? beliau bersabda :” agama “.

Keduanya juga meriwayatkan dari Abu Hurairoh dari Nabi sallallahu’alaihi wasallam bersabda :” Ketika aku tidur, aku bermimpi masuk ke dalam syurga, ternyata ada seorang wanita yang sedang berwudlu di samping sebuah istana, lalu aku bertanya :” Milik siapakah istana ini ? mereka menjawab :” Milik umar “. aku ingat kecemburuan Umar (yang besar) maka akupun segera bergegas pergi “. Mendengar itu Umar menangis dan berkata :” Ayahku sebagai tebusannya, wahai Rosulullah apakah kepada engkau aku cemburu ?”

Dan keutamaan-keutamaan Umar yang lain yang sangat banyak bukan disini tempat penyebutannya. Beliau mati Syahid dibunuh oleh seorang Majusi najis yang bernama Abu Luluah di akhir bulan Dzul hijjah tahun 23 H. Semoga Allah meridloi beliau.

Makna إنما

Ibnu Daqiq Al ‘Ied berkata :” Kata Innama mempunyai makna pembatasan (al hashru) sebagaimana telah tetap dalam ushul…. Pembatasan tersebut terkadang secara mutlak dan terkadang khusus, hal itu dapat difahami sesuai dengan indikasi dan redaksinya.

Adapun pembatasan khusus seperti firman Allah إنما أنت منذر “Sesungguhnya engkau hanyalah pemberi peringatan “. Lahiriyah ayat ini menunjukkan pembatasan tugas Rosul sebagai pemberi peringatan saja, padahal beliau mempunyai sifat-sifat lain yang terpuji seperti pemberi kabar gembira dan lain-lain.

Adapun pembatasan secara mutlak seperti dalam hadits niat ini8.

Faidah dari pembahasan ini adalah memahami makna innama secara benar, karena terkadang seseorang berdalil dengan sebuah dalil untuk membatasi sebuah permasalah akan tetapi ternyata tidak seperti yang ia fahami setelah melihat kepada indikasi (qorinah) dan redaksinya.

Makna الأعمال

Ia adalah bentuk jama’ dari amal, yang dimaksud dengan amal disini ialah amalan badan dan lisan, Al Hafidz Ibnu Hajar berkata :” Lafadz amal disini mencakup perbuatan anggota badan dan lisan sehingga masuk padanya perkataan, Ibnu Daqieq Al ‘Ied berkata :” Sebagian ulama ada yang mengeluarkan perkataan, dan pendapat ini jauh (dari kebenaran) dan tidak ragu lagi bagiku bahwa ia masuk ke dalamnya “.9

Al Hafidz melanjutkan :” Adapun amalan hati seperti niat maka tidak masuk ke dalam hadits ini agar tidak terjadi tasalsul (berantai) “.

Maksud beliau adalah bahwa amalan hati tidak membutuhkan niat, contohnya adalah niat, ia adalah amalan hati tidak membutuhkan niat untuk berniat sebab akan terjadi rantai niat yang sangat panjang yang tak ada ujungnya, diantara contoh amalan hati adalah cinta, benci, tawakkal, takut, beriman dan lain sebagainya “.

Makna بالنيات

Huruf ba disini mempunyai makna al mushohabah (menemani) sehingga menunjukkan bahwa niat itu bagian dari amalan itu sendiri dan disyaratkan tidak boleh terlambat diawalnya. Mungkin juga mempunyai makna sababiyah (sebab) yaitu penegak amalan seakan-akan ia adalah menjadi sebab terjadinya amalan tersebut10.

Alif lam pada kata النيات bertugas sebagai pengganti dlomir (kata ganti) sehingga taqdirnya begini الأعمال بنياتها “ Amal itu sesuai niatnya”. Dan ini menunjukkan keharusan menentukan niat, seperti berniat untuk sholat atau bukan, wajib atau sunnah, sholat dzuhur atau ashar, qashar atau sempurna dan lain sebagainya. Lalu apakah harus berniat dengan jumlah roka’atnya ? yang shohih tidak harus, akan tetapi cukup menentukan ibadah yang akan ia lakukan saja, contohnya orang yang sedang safar cukup ia menentukan niat qoshor saja tidak perlu menyebutkan jumlah raka’atnya karena ia adalah konsekuensi qashar. Wallahu a’lam11.

11 Ibnu Hajar Al Hafidz, Fathul Bari 1/11.

11 idem

22 dengan dua catatan, pertama : keshohihan, karena ada jalan lainnya akan tetapi semuanya ma’lul (cacat) sebagaimana yang disebutkan oleh Ad Daroquthni, Abul Qosim bin Mandah dan yang lainnya. Kedua : redaksinya, karena ada hadits hadits lain yang shohih yang semakna dengannya mengenai niat (Fathul Bari 1/11).

33 saya membawakan perkataan imam Al Bukhari adalah untuk membantah sebagian orang yang beranggapan bahwa Imam Al Bukhari menolak hadits ahad dalam aqidah, mereka beralasan bahwa ketika Al Bukhari menyebutkan dalam shohihnya kitab akhbar ahad beliau berkata :” Bab bolehnya menerima kabar seorang yang shoduq dalam adzan, sholat, puasa, faroidl dan ahkam…..”. mereka berkata :” disini imam Al Bukhari tidak menyebutkan aqidah”. Saya (penulis) berkata :” perkataan Al Bukhari saling melengkapi satu sama lainnya, dan juga karena para ulama terdahulu tidak pernah memilah antara aqidah dan hukum, tidakkah anda memperhatikan bahwa masalah adzan, sholat, puasa, dan haji adalah bagian dari rukun islam, yang barang siapa yang mengingkarinya ia kafir dengan kesepakatan ulama !? pembicaraan mengenai hadits ahad telah dikupas tuntas oleh Syeikh Salim Al Hilali dalam kitabnya Al Adillah wa syawahid.

44 Ibnu Abdil Barr, At Tamhid 1/8.

55 dari kitab qowa’id wa fawaid karya Nadzim Muhammad Sulthon hal. 24

66 ini menunjukkan bahwa kunyah tidak harus sama dengan nama anak, karena Umar tidak memiliki anak yang bernama Hafsh.

77 Adz Dzahabi, siyar khulafa Ar Rosyidin hal. 71

88 Ibnu Daqiq Al ‘Ied, Ihkamul ahkam. Lihat pula Fathul Bari 1/12

99 idem

1010 Ibnu hajar, Fathul Bari 1/13.

1111 idem 1/14

Artikel CintaSunnah.Com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s